Bidadari Judi Poker Di Gerbong Kereta Api

bidadari poker
Sebuah kereta api di dalamnya terdapat sebuah arena perjudian cukup lengkap, dari mulai permainan roulette sampai judi poker, bola setan, dadu, ceme, sampai qiu-qiu ada. Dalam sebuah kesempatan itu saya bertemu dengan seorang wanita berparas sangat cantik sedang bermain poker di salah-satu meja judi dalam gerbeong kereta api itu.

“Tuuut tuuuutt….”
Suara kereta seketika menerobos keramaian dalam deretan gerbong berjalan. Roda-roda besi berdetak dan berputar seirama di atas rel yang seolah tidak ada ujungnya menemani perjalananku. Udara dalam gerbong yang terasa pengap nyatanya membuat aku merasa kesal. Namun, perasaan itu tiba-tiba hilang ketika ada yang menghampiri dan menyapaku. Seorang bidadari.
“Permisi mas mau tanya.”
Suara lembut seorang bidadari menyapa dan melenyapkan rasa kesalku.
“Iya mbak, ada apa?”
“Saya ingin ke alamat ini, sebaiknya turun di stasiun mana ya mas?”
Sembari menunjukkan selembar kertas kecil dan akupun membaca tulisan di atasnya dengan seksama.
“Kebetulan sekali mbak. Mbak bisa turun bareng saya di stasiun Kertosono.”
“Oh terima kasih mas.”
Mungkin bisa dibilang dewi fortuna sedang berpihak padaku. Entah darimana bidadari judi poker cantik ini datang dan menghampirku. Secara kebetulan kursi penumpang kami pun berjejeran.
Paras bidadari di sampingku sungguh menawan, apalagi dengan balutan kain merah muda yang menutup mahkotanya. Tiba-tiba saja ada perasaan penasaran yang menggodaku. Aku benar-benar ingin tahu siapa dia. Karena grogi aku pun merasa haus. Aku mengambil botol air mineral yang ada di meja kereta. Tidak lupa aku menawarkan pada Dinda, bidadari cantik di sampingku yang kini kuketahui namanya pasca berkenalan. Dinda pergi ke Madiun untuk mengunjungi neneknya.
Kami saling bertukar cerita selama perjalanan. Setelah bercerita ini itu siapa sangka ternyata Dinda tidak hanya cantik tetapi juga humoris. Aku dibuat kagum hanya dalam hitungan menit. Dalam hati ada harapan aku bisa mengenalnya lebih dekat, kalau boleh sampai memasuki hatinya.
“Jadi mas Dika mau pulang kampung?”
“Iya selagi ada kesempatan libur panjang, kangen rumah,”
Tidak pernah kukira kami bisa cepat akrab satu sama lain. Meski baru bercerita tentang aktivitas masing-masing ada rasa nyaman.
Di tengah perjalanan bidadari di sampingku terkantuk dan tertidur. Saat Dinda tertidur waktu terasa panjang. Perjalanan terasa lama sekali. Bangku penumpang di depan kami kosong setelah seorang pria turun di stasiun Mojokerto. Aku berganti tempat duduk. Sekarang aku duduk di depan Dinda. Bukan apa-apa. Karena aku ingin agar Dinda bisa rebahan lebih leluasa. Setelah duduk di depannya semakin jelas wajahnya yang memikat. Rasanya tangan ini begitu dingin. Mengapa perasan kagum selalu muncul saat aku melihatnya. Apalagi melihat sang Bidadari Judi Poker yang sedah tertidur. Ada kepolosan yang terpancar dari paras manisnya.
“Tut tuuut…”
Lamunanku buyar ketika Dinda terbangun dan bertanya.
“Sudah sampai mana ini mas?
“Sebentar lagi sampai, Dinda siap-siapin semua barang yang dibawa aja.”
Rasa sesak datang. Sepertinya ada kesedihan dan ketakutan akan perpisahan. Tidak lama setelahnya kereta berhenti di stasiun tujuan kami. Apakah kesempatan ini harus aku lepas begitu saja? Aku tidak ingin perkenalan kami berhenti sampai di sini. Akhirnya aku memberanikan diri mengajaknya bertukar nomor telepon. Aku mengantarkan Dinda mencari becak untuk mengantarkannya ke alamat yang dia tuju. Setibanya di pangkalan becak, dengan berat hati aku mengucapkan selamat tinggal. Namun, dalam hati tetap ada harapan semoga akan ada pertemuan manis selanjutnya yang kami janjikan di sebuah kantor milik situs poker online yang aku kelola. Sebuah kenangan indah tak terlupakan buatku bertemu Bidadari Judi Poker Di Gerbong Kereta Api, di stasiun senen Jakarta Pusat.

Incoming search terms:

  • kereta bidadari
  • bidadari poker
  • bidadaripoker
  • bidadaripoker online
  • foto sexy telanjang judi poker di tempat perjudian
  • kereta sedah
  • permainan strip poker
  • permainan stripe poker
  • tuuuutt suara kereta memecah

lee

View more posts from this author